NGAWI - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi mulai mengantisipasi potensi kemarau ekstrem tahun 2026, menyusul peringatan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika terkait ancaman kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu krisis air bersih, termasuk di wilayah Kabupaten Ngawi. Menindaklanjuti hal itu, BPBD Ngawi menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, khususnya untuk daerah rawan kekeringan.
Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Ngawi, Partoyo, mengatakan pihaknya telah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana guna menghadapi dampak cuaca ekstrem yang diperkirakan terjadi pada musim kemarau mendatang.
“Kami sudah menyiapkan armada dan sarana pendukung untuk penanganan kekeringan, termasuk distribusi air bersih ke wilayah terdampak,” ujar Partoyo.
Baca Juga : Dampak Kenaikan Harga Bahan Baku, Produksi Kripik Tempe di Ngawi Menurun Drastis
Sebagai langkah konkret, BPBD akan mendistribusikan air bersih menggunakan armada tangki ke daerah yang mengalami krisis air. Berdasarkan pemetaan terakhir, terdapat 13 desa yang menjadi perhatian khusus.
Wilayah-wilayah tersebut sebagian besar berada di kawasan utara aliran Bengawan Solo. Secara geografis, sumber air di daerah tersebut cenderung memiliki kadar garam tinggi sehingga kurang layak untuk dikonsumsi.
Selain langkah jangka pendek, BPBD Ngawi juga menyiapkan upaya jangka panjang melalui koordinasi dengan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP).
Baca Juga : Kejari Ngawi Bidik Dua Kasus Dugaan Korupsi
“Kami juga berkoordinasi untuk pembangunan jaringan pipanisasi di titik-titik rawan kekeringan, sebagai solusi jangka panjang,” tambahnya.
Dengan berbagai langkah antisipasi ini, pemerintah daerah berharap dampak kemarau ekstrem dapat diminimalkan, sekaligus memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi.
Editor : 96





























Memuat...