BLITAR - Lonjakan harga kedelai impor membuat perajin tahu tradisional di Kota Blitar menjerit. Kenaikan bahan baku ini memaksa mereka memutar strategi produksi agar usaha tetap berjalan tanpa harus kembali menaikkan harga jual.
Salah satunya dialami Wahyu Saputro, perajin tahu asal Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo. Ia mengaku terdampak kenaikan harga kedelai yang kini menyentuh Rp 10.500 per kilogram, imbas gejolak global.
“Kalau langsung menaikkan harga lagi, pelanggan bisa kabur. Padahal setahun lalu sudah sempat naik,” ujarnya.
Demi menyiasati kondisi tersebut, Wahyu memilih mengubah komposisi bahan produksi. Ia tetap mempertahankan ukuran tahu, namun mengurangi porsi kedelai dan menambah bahan campuran.
Baca Juga : Kisah Nia Anggraini, Perempuan Tangguh yang Tumbuh Bersama PNM Mekaar dan BRI
Proses produksi sendiri tidak berubah. Kedelai tetap digiling menjadi bubur, lalu dipanaskan sebelum dicampur bahan lain seperti cuka dan fermentasi. Perubahan hanya dilakukan pada takaran komposisi.
“Yang penting ukuran tidak berubah, tapi biaya produksi bisa ditekan,” imbuhnya.
Dalam sehari, Wahyu mampu mengolah sekitar 16 kilogram kedelai. Tahu hasil produksinya dijual Rp 5 ribu untuk tiga biji.
Baca Juga : Kedelai Melambung, Perajin Tahu Blitar Putar Otak: Ukuran Tetap, Komposisi Diubah
Para perajin berharap pemerintah segera turun tangan menstabilkan harga kedelai. Jika kondisi ini terus berlanjut, mereka khawatir usaha kecil seperti tahu tradisional akan semakin terhimpit. (Qithfirul Aziz)
Editor : 95




























Memuat...