SURABAYA - Kondisi ekonomi global yang tidak menentu menjadi tantangan bagi masyarakat dalam mengelola keuangan. Situasi ini tidak hanya berdampak pada negara-negara besar, tetapi juga turut memengaruhi stabilitas ekonomi di Indonesia.
Merespons kondisi tersebut, program Cerdas Investasi 2026 Series 2 kembali digelar setelah sebelumnya sukses dilaksanakan pada masa pandemi. Program ini dihadirkan sebagai upaya memperkuat literasi keuangan sekaligus menjadi “benteng” bagi generasi muda dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Melalui kolaborasi antara JTV, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Timur, program ini tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga ruang diskusi terkait strategi bertahan secara finansial.
Diskusi ini menghadirkan Kepala OJK Jawa Timur, Yunita Linda Sari, Kepala Kantor Perwakilan BEI Jawa Timur, Cita Melisa, serta Arumi Bachsin. Ketiganya berbagi pandangan seputar investasi untuk membuka wawasan generasi muda dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Generasi Muda dan Peluang di Tengah Krisis
Di tengah ketidakpastian global, generasi muda justru dinilai memiliki potensi besar dalam dunia investasi. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah investor muda yang kini mendominasi pasar modal.
Keterlibatan mahasiswa dalam sesi interaktif juga menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi mulai memahami pentingnya perencanaan dan analisis dalam berinvestasi.
“Kalau di kelas kan hanya theoretical, tapi di sini kita praktik. Teman-teman bisa merasakan langsung ketika ada penurunan, bagaimana kita melakukan koreksi," ujar Cita Melisa.
Dengan pemahaman tersebut, generasi muda diharapkan mampu melihat krisis bukan hanya sebagai tantangan, tetapi juga peluang untuk berkembang.
Selain generasi muda, perempuan juga memiliki peran penting dalam ketahanan ekonomi, khususnya melalui sektor UMKM di Jawa Timur.
Arumi Bachsin menilai bahwa perempuan memiliki potensi besar dalam mengelola keuangan, namun juga rentan terhadap praktik pinjaman online ilegal dan penipuan investasi.
“Perempuan ini sebetulnya memiliki potensi yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita arahkan agar memilih instrumen investasi yang aman dan legal," tutur Arumi Bachsin sebagai Ketua TP PKK Jatim.
Oleh karena itu, peningkatan literasi keuangan dinilai penting agar perempuan dapat mengelola keuangan secara mandiri sekaligus berkontribusi terhadap perekonomian.
Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian
Dalam menghadap kondisi pasar yang fluktuatif, investor perlu memiliki strategi yang matang agar tidak terjebak dalam keputusan yang impulsif.
Bursa Efek Indonesia mengingatkan bahwa pemahaman terhadap kinerja perusahaan menjadi hal penting sebelum berinvestasi.
“Jangan asal membeli saham tanpa memahami kinerja perusahaan. Perlu melihat laporan keuangan, arus kas, dan prospek ke depan," terang Cita Melisa.
Investor pemula juga disarankan untuk mengenali tujuan investasi, memahami risiko dan imbal hasil, serta memulai investasi secara bertahap dan disiplin.
Waspada Risiko dan Investasi Ilegal
Strategi berinvestasi juga perlu diimbangi dengan kewaspadaan diri, terutama maraknya praktik investasi ilegal dan penipuan.
OJK menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat serta memastikan legalitas setiap instrumen investasi yang dipilih.
"Kedepankan logis dan legal. Legal terdaftar di OJK dan logis terkait pertumbuhan sahamnya," ujar Yunita.
“Jika ada masyarakat yang mengalami penipuan atau scam, bisa langsung melapor melalui layanan yang telah disediakan, baik secara langsung maupun melalui aplikasi," tambah Yunita.
Masyarakat juga diimbau untuk mengedepankan prinsip legal dan logis, serta tidak mudah tergiur dengan iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat.(Luluk listiani)
Editor : 39





























Memuat...